Jakarta – CEO R17 Group, Hengky Witarsa, menilai serangan siber merupakan ancaman serius yang memerlukan kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk membangun ketahanan digital nasional.
"Ketahanan digital hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi nyata antara regulator dan industri. Kami mendorong pendekatan secure-by-design agar inovasi bisnis dapat berjalan seiring dengan perlindungan data," pesan Hengky.
Perwakilan Cyble, Rangga F, menyampaikan bahwa meningkatnya jejak digital memperbesar risiko terhadap aset data, terutama dengan maraknya aktivitas di forum dan marketplace dark web. Karena itu, teknologi pemantauan dark web dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan visibilitas dan kecepatan deteksi ancaman.
General Manager Virtus Technology Indonesia, Wisnu Nursahid, menekankan bahwa cyber resilience kini menjadi kebutuhan utama organisasi.
"Pendekatan keamanan berbasis AI mampu meningkatkan akurasi deteksi, mempercepat respons, serta memperkuat perlindungan tanpa menghambat operation bisnis," dia menandasi.
Penguatan ketahanan digital Indonesia membutuhkan langkah strategis berkelanjutan, mulai dari percepatan pembentukan badan pengawas data, penguatan koordinasi lintas lembaga, hingga investasi dalam pengembangan talenta dan teknologi.
R17 Group berkomitmen untuk terus mendorong kolaborasi nyata yang tidak hanya mampu menjawab tantangan saat ini, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi keamanan data dan kedaulatan digital Indonesia di masa depan.

