JAKARTA, Gonesia.com — Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan terbatas pada pembukaan perdagangan Senin, 3 Agustus 2026, dengan menembus level psikologis di bawah Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda sempat dibuka stagnan pada posisi Rp 18.022 per dolar AS sebelum akhirnya berbalik menguat sebesar 0,14% ke level Rp 17.997 per dolar AS.
Momentum apresiasi tersebut berlanjut hingga pukul 09.10 WIB, di mana rupiah terpantau menguat 0,26% dan bertengger di angka Rp 17.975 per dolar AS.
Pergerakan positif ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang secara langsung memengaruhi sentimen pasar global.
Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan rencana serangan terhadap Iran menjadi katalis utama dalam perubahan arah pasar hari ini.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pembatalan aksi militer tersebut memberikan napas lega bagi investor global.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah setelah Trump mengatakan pada Minggu pagi bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran menyusul permintaan dari Teheran dan negara-negara tetangganya di kawasan tersebut,” ujar Lukman kepada Katadata, Senin (3/8).
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut berhasil meningkatkan optimisme pasar secara signifikan.
Keyakinan bahwa konflik di Timur Tengah tidak akan meluas mendorong para pelaku pasar kembali melirik aset berisiko.
Hal ini secara otomatis mengurangi permintaan terhadap dolar AS yang selama ini dianggap sebagai aset safe haven atau pelindung nilai.
Kendati demikian, potensi penguatan rupiah diprediksi tidak akan berlangsung secara agresif.
Ia menilai bahwa investor masih menerapkan sikap kehati-hatian yang cukup tinggi sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Sentimen pelaku pasar kini beralih menantikan rilis sejumlah indikator ekonomi domestik yang dijadwalkan akan diumumkan siang nanti.
Data ekonomi nasional tersebut dipandang sebagai penentu utama arah pergerakan pasar untuk jangka pendek.
“Penguatan akan terbatas, dengan investor menantikan rilis data-data ekonomi penting domestik siang ini,” katanya.
Sepanjang perdagangan hari ini, ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup moderat.
Estimasi pergerakan mata uang domestik dipatok pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Kondisi pasar saat ini mencerminkan sensitivitas tinggi investor terhadap perkembangan geopolitik serta data fundamental makroekonomi.
Stabilitas di kawasan Timur Tengah menjadi faktor penentu apakah tren penguatan rupiah dapat bertahan atau justru kembali tertekan oleh dinamika dolar AS.
Para pelaku pasar kini menanti rilis data domestik untuk mendapatkan sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter ke depan.


