Kathmandu – Gelombang demonstrasi masif yang melanda Nepal dalam sepekan terakhir berujung pada tragedi dan gonjang-ganjing politik, ditandai dengan tewasnya istri mantan Perdana Menteri, Rajyalaxmi Chitrakar, serta pengunduran diri Perdana Menteri dan Presiden.
Chitrakar, istri dari mantan PM Jhalanath Khanal, dilaporkan meninggal dunia setelah rumahnya di Kathmandu dibakar massa pada Selasa (9/9/2025). Ia menderita luka bakar parah di berbagai bagian tubuh, termasuk paru-paru, dan nyawanya tidak tertolong selama perawatan intensif di Rumah Sakit Kirtipur. Kerusuhan ini juga merenggut sedikitnya 19 nyawa dan melukai ratusan lainnya.
Aksi protes yang berlangsung sejak Jumat (5/9/2025) hingga Selasa (9/9/2025) ini bermula dari pemblokiran 26 platform media sosial populer oleh pemerintah, termasuk Facebook, YouTube, dan X. Namun, kemarahan publik sesungguhnya berakar pada isu korupsi yang merajalela dan ketimpangan sosial ekonomi yang parah.
Demonstran, yang didominasi oleh generasi muda atau Gen Z, turun ke jalan menuntut perubahan fundamental dalam kepemimpinan negara. Mereka menyoroti gaya hidup mewah pejabat yang kerap “flexing” di tengah kesulitan ekonomi rakyat. Rumah-rumah pejabat diserbu dan dibakar, bahkan gedung parlemen juga menjadi sasaran amukan massa.
Tekanan massa yang tak terbendung akhirnya memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli untuk mundur dari jabatannya pada Selasa (9/9/2025). Beberapa jam kemudian, Presiden Ram Chandra Poudel menyusul mengundurkan diri, meninggalkan kursi kekuasaan kosong di tengah kekacauan yang melanda negeri di kaki Himalaya itu. Akar gerakan ini juga dapat ditelusuri kembali ke tahun 2015, menyusul gempa bumi besar yang mengguncang Nepal, memicu ketidakpuasan jangka panjang terhadap tata kelola negara.

