IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Fitch Naikkan Profil Kredit TLKM, Rating Tertahan oleh RI

Fitch naikkan profil kredit TLKM, tapi rating tetap karena peringkat RI di BBB

Jakarta – Fitch Ratings menaikkan profil kredit mandiri PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom menjadi ‘a’ dari sebelumnya ‘a-‘. Revisi ini didorong keyakinan bahwa emiten telekomunikasi pelat merah tersebut dapat membiayai belanja jaringan 5G tanpa menambah leverage secara berarti.

Namun, peningkatan pada level profil kredit itu belum diikuti kenaikan peringkat utang. Fitch tetap mempertahankan Long-Term Foreign- and Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) Telkom di level ‘BBB’ dengan outlook negatif, sejalan dengan peringkat pemerintah Indonesia yang juga berada pada level sama dan beroutlook negatif.

Dalam keterangan resmi yang dirilis Jumat (2/10/2026), Fitch menilai Telkom masih memegang posisi kuat dan stabil di pasar telekomunikasi nasional. Lembaga tersebut juga menekankan bahwa rasio EBITDA net leverage Telkom diperkirakan bertahan di kisaran 0,4 kali sepanjang 2026-2029, jauh di bawah sejumlah pembanding industri.

Kondisi itu, menurut Fitch, memberi ruang bagi Telkom untuk melanjutkan investasi besar, termasuk modernisasi jaringan pada 2027-2028, tanpa mengubah profil utangnya secara material. Selain itu, perusahaan dinilai masih memiliki kapasitas keuangan yang memadai untuk mendukung ekspansi.

Telkom tetap menjadi pemain utama di segmen business-to-consumer (B2C) yang menyumbang sekitar 72% pendapatan pada 2025. Di bisnis seluler, pangsa pasarnya sekitar 48%, sedangkan di fixed broadband mencapai 67%. Fitch juga melihat pasar telekomunikasi Indonesia masih punya ruang pertumbuhan, terutama di layanan seluler setelah konsolidasi industri membentuk struktur pasar yang lebih stabil dengan tiga pemain besar.

Pajak E-Commerce 2026: Cara Hitung dan Simulasinya

Struktur baru itu diperkirakan membuat persaingan lebih rasional. Fitch memperkirakan operator akan lebih fokus pada pelanggan bernilai tinggi, sementara konsumsi data terus naik. Dalam skenario itu, average revenue per user (ARPU) diprediksi masih meningkat meski pertambahan pelanggan berjalan moderat.

Di bisnis fixed broadband, Telkom diperkirakan tetap memimpin dengan lebih dari 9 juta pelanggan. Meski begitu, Fitch mengingatkan segmen ini masih menghadapi tekanan dari persaingan yang ketat dan perlambatan adopsi layanan konvergensi.

Dari sisi keuangan, Fitch memproyeksikan EBITDA net leverage Telkom tetap berada di rentang 0,4-0,5 kali meski perusahaan menambah belanja modal untuk modernisasi jaringan pada 2027-2028. Pertumbuhan EBITDA, terutama mulai 2028 ketika program reorganisasi perusahaan mulai memberi hasil, dinilai menjadi penopang utama rendahnya leverage.

Dalam proyeksi Fitch, pendapatan Telkom tumbuh sekitar 2% per tahun pada 2026 dan 2027, dengan margin EBITDA 44%. Belanja modal diperkirakan setara 19% dari pendapatan pada 2026 dan naik menjadi 23% pada 2027. Fitch juga memperkirakan Telkom membayar dividen sekitar Rp 22 triliun pada 2026 dan Rp 23 triliun pada 2027, serta melakukan buyback saham sekitar Rp 1,8 triliun pada 2026.

Investasi jaringan Telkom turut terbantu oleh biaya spektrum yang lebih rendah dari perkiraan Fitch. Dalam lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz terbaru, perseroan memperoleh 2×10 MHz pada pita 700 MHz dan 80 MHz pada pita 2,6 GHz. Biaya di muka yang dibayarkan juga disebut setara dengan biaya tahunan, berbeda dengan mekanisme pada lelang sebelumnya.

BBCA dan PTBA Pimpin Net Buy Asing, IHSG Bangkit Jumat Ini

Dengan tambahan itu, Telkom semakin menguatkan statusnya sebagai pemilik portofolio spektrum terbesar di Indonesia. Fitch juga tidak memperkirakan adanya lelang spektrum tambahan dalam skenario pemeringkatannya.

Meski SCP Telkom naik ke ‘a’, Fitch tidak mengerek IDR perusahaan. Alasannya, peringkat Telkom masih dibatasi oleh rating sovereign Indonesia. Pemerintah memegang sekitar 52% saham Telkom dan menjadi satu-satunya pemilik saham khusus Seri A Dwiwarna yang memiliki hak veto atas keputusan penting, mulai dari pengangkatan dan pemberhentian direksi serta komisaris, penerbitan saham baru, hingga perubahan anggaran dasar.

Fitch menilai profil kredit mandiri Telkom sebenarnya lebih kuat dibandingkan rating Indonesia. Tetapi keterkaitan yang erat dengan negara, ditambah tidak adanya pembatasan yang dianggap cukup untuk menghambat akses pemerintah terhadap aset Telkom, membuat peringkat perusahaan tetap mengikuti rating sovereign.

Implikasinya, perubahan rating Telkom ke depan sangat bergantung pada pergerakan rating pemerintah Indonesia. Penurunan sovereign berpotensi menyeret peringkat Telkom, sedangkan kenaikan sovereign atau melemahnya hubungan pemerintah dengan Telkom bisa membuka ruang kenaikan bagi perusahaan. Outlook Telkom pun baru bisa kembali stabil jika outlook rating Indonesia berubah dari negatif menjadi stabil, dengan asumsi hubungan kedua pihak tetap sama.

Fitch juga menyoroti adanya investigasi yang masih berlangsung oleh US Securities and Exchange Commission (SEC) dan investigasi internal Telkom terkait kelemahan pelaporan historis. Dalam penilaian tata kelola, aspek kualitas informasi dan transparansi Telkom disebut memiliki “Some Deficiencies”, meski belum cukup signifikan untuk menekan SCP.

GOTO Menguat, Investor Cermati Valuasi dan Buyback

Perseroan disebut telah mengambil langkah perbaikan bersama SEC. Selain itu, individu yang bertanggung jawab atas kelemahan tata kelola yang lebih serius sudah tidak lagi berada di perusahaan. Kendati demikian, Fitch menegaskan waktu penyelesaian dan dampak akhir dari investigasi tersebut masih belum jelas.

Dalam analisisnya, Fitch juga memperhitungkan kepemilikan minoritas atas sejumlah aset utama Telkom. Lembaga itu mengonsolidasikan secara proporsional 70% keuangan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) dan 72% keuangan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel). Untuk Telkomsel, kepemilikan 30% oleh Singapore Telecommunications dinilai masih memberi pengaruh strategis dan operasional.

Secara industri, Fitch menempatkan Telkom sebagai incumbent yang kuat di Indonesia, dengan diversifikasi usaha luas dan kepemilikan infrastruktur yang besar, mencakup menara, jaringan serat optik, hingga kabel bawah laut. Margin EBITDA Telkom sekitar 45%, lebih tinggi dibanding XLSMART Telecom Sejahtera Tbk yang di bawah 30% dan Indosat sekitar 30%.

Dari sisi leverage, EBITDA net leverage Telkom sekitar 0,4 kali, jauh lebih rendah dibanding XLSMART yang sekitar 2,1 kali pada 2025 dan Indosat sekitar 1 kali. Meski demikian, tidak seperti dua pesaing domestik itu, peringkat Telkom tetap dibatasi oleh posisi sovereign Indonesia.

Jika dibandingkan dengan KT Corporation asal Korea Selatan, leverage Telkom juga lebih rendah. EBITDA net leverage KT berada di sekitar 1 kali. Namun KT beroperasi di pasar yang lebih maju secara teknologi dengan ARPU lebih tinggi, sementara pasar telekomunikasi Korea Selatan sudah jauh lebih matang sehingga ruang pertumbuhannya lebih sempit daripada Indonesia.

Dari sisi likuiditas, Telkom memiliki kas dan setara kas sekitar Rp 54,5 triliun serta fasilitas likuiditas yang belum digunakan sekitar Rp 4 triliun per Juni 2026. Jumlah itu berhadapan dengan sekitar Rp 30 triliun utang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan.

Fitch menilai jadwal jatuh tempo utang Telkom setelah periode tersebut juga relatif tersebar dengan baik. Lembaga itu memperkirakan Telkom tetap memiliki akses yang kuat ke pasar modal serta perbankan domestik dan internasional untuk kebutuhan refinancing.

Komentar