JAKARTA, Gonesia.com – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mendorong investor untuk beralih dari spekulasi jangka pendek menuju strategi pembangunan portofolio yang lebih efisien di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
Strategi ini dianggap krusial mengingat kenaikan yield SBN saat ini menciptakan peluang investasi yang jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan kondisi pasar dalam beberapa tahun terakhir.
Tekanan pasar saham saat ini pun telah menekan valuasi banyak emiten di Indonesia hingga mencapai level yang dinilai sangat menarik jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya.
Kondisi tersebut menuntut investor untuk berhenti memilih antara saham atau obligasi secara terpisah, melainkan mulai memadukan kedua aset tersebut dalam satu portofolio yang terintegrasi.
“Bagi investor, pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah melakukan akumulasi bertahap sembari mempertahankan diversifikasi lintas aset,” ujar Freddy Tedja, Head of Investment Specialist MAMI kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
Ia menegaskan bahwa sejarah pasar Indonesia membuktikan kelas aset dengan imbal hasil tertinggi akan terus berubah seiring waktu, sehingga manajemen portofolio aktif menjadi kebutuhan mutlak.
Fokus investor seharusnya bukan lagi sekadar menebak aset mana yang akan naik, melainkan mengalokasikan modal pada area yang menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil terbaik pada setiap fase siklus.
Dalam konteks ini, reksadana pendapatan tetap menjadi instrumen yang sangat menarik untuk dicermati karena kenaikan yield SBN meningkatkan potensi imbal hasil untuk jangka menengah hingga panjang.
“Investor pada dasarnya dapat “mengunci” tingkat yield yang lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir. Apabila ke depan tekanan terhadap suku bunga mereda, investor juga berpotensi menikmati capital gain dari kenaikan harga obligasi,” ucap dia.
Di sisi lain, sektor reksadana saham mulai menunjukkan daya tarik valuasi yang signifikan akibat adanya arus keluar dana asing dan tekanan sentimen pasar.
Ia menyarankan investor dengan cakrawala investasi panjang untuk memanfaatkan momen ini sebagai titik awal pembentukan imbal hasil yang optimal di masa mendatang.
“Kami tetap menekankan pentingnya seleksi emiten yang disiplin dan fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat serta prospek laba yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Selanjutnya, ia menyebut reksadana campuran sebagai alternatif yang sangat relevan karena memberikan fleksibilitas untuk menangkap peluang dari pasar saham dan obligasi secara bersamaan.
Fleksibilitas dalam mengubah alokasi antar aset di periode transisi ekonomi seperti sekarang dianggap sebagai nilai tambah yang sangat signifikan bagi para investor.
Sementara itu, instrumen reksadana pasar uang tetap diposisikan sebagai alat likuiditas, namun investor diingatkan untuk tidak terlalu lama menahan dana di sana agar tidak mengorbankan potensi pertumbuhan kekayaan.
Data historis MAMI menunjukkan bahwa saham dan obligasi memiliki daya saing yang jauh lebih unggul dalam meningkatkan daya beli dibandingkan sekadar menyimpan dana di instrumen kas.
“Reksadana offshore dan reksadana dalam mata uang asing juga menyajikan peluangnya sendiri di kondisi market saat ini, dan dapat dijadikan sarana diversifikasi baik untuk strategi defensif maupun agresif,” jelas dia.
Pandangan serupa disampaikan oleh Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan.
Ia memproyeksikan kinerja reksadana pada semester II-2026 berpotensi lebih baik dibandingkan semester sebelumnya, meskipun volatilitas pasar diperkirakan masih akan membayangi.
Pemulihan pasar di semester kedua ini sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi, tren penurunan suku bunga, serta perbaikan sentimen investor secara keseluruhan.
“Oleh karena itu, kinerja reksadana pada semester II akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajer investasi dalam melakukan asset allocation, menjaga kualitas portofolio, dan melakukan seleksi instrumen yang tepat, dibandingkan hanya mengandalkan pergerakan pasar secara umum,” ucap Reza.


