Jakarta, Gonesia.com – Kedutaan Besar Iran di Indonesia secara resmi membantah spekulasi mengenai ambisi nuklir negaranya menyusul pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait risiko perlombaan senjata di Timur Tengah.
Melalui unggahan di akun X resmi pada Senin (3/8), pihak kedutaan menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata pemusnah massal tersebut.
“The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Respons diplomatik ini muncul sebagai tanggapan atas pidato Presiden Prabowo di Istana Negara pada Jumat (31/7) lalu.
Dalam pertemuan dengan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Presiden menyoroti kekhawatiran global terhadap potensi efek domino di kawasan Timur Tengah.
Ia mengungkapkan kecemasan bahwa eskalasi konflik dapat mendorong negara-negara lain untuk turut mengembangkan kemampuan nuklir demi menjaga keseimbangan kekuatan pertahanan.
“Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir,” ujar Prabowo.
Menanggapi narasi tersebut, Kedubes Iran memberikan penjelasan teknis mengenai program nuklir mereka yang diklaim sepenuhnya bersifat damai.
Pihak kedutaan menekankan bahwa seluruh operasional fasilitas nuklir mereka berlandaskan pada Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir atau NPT.
“Berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), menjalankan hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional,” lanjut keterangan tersebut.
Selain itu, mereka menegaskan bahwa Iran menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia yang diawasi langsung oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Pihak kedutaan juga menggarisbawahi bahwa senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan nasional Iran.
“Fatwa Pemimpin Syahid Republik Islam Iran mengharamkan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Teknologi nuklir dimanfaatkan bagi kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian,” ujarnya.
Pernyataan Presiden Prabowo mengenai isu sensitif ini sebelumnya sempat menyita perhatian publik luas.
Hal itu terjadi karena siaran langsung acara tersebut mendadak terputus tepat setelah ia membahas isu nuklir di Timur Tengah.
Tayangan yang disiarkan secara langsung tiba-tiba berganti ke jeda iklan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya.
Peristiwa teknis tersebut kemudian memicu beragam spekulasi di media sosial mengenai konteks pidato tersebut.
Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum memberikan keterangan tambahan terkait respons resmi dari pihak Kedubes Iran tersebut.
Fokus diplomatik kini kembali pada upaya menjaga stabilitas kawasan di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.
Iran tetap bersikukuh bahwa transparansi menjadi fondasi utama dalam pengembangan teknologi nuklir yang mereka jalankan selama ini.
Mereka berkomitmen untuk terus menjalankan program tersebut dalam koridor hukum internasional yang berlaku.


