Jakarta – Sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) mencatat lonjakan kinerja sepanjang tahun buku 2025, bahkan sebagian di antaranya berhasil berbalik dari rugi menjadi laba. Pencapaian itu dinilai sebagai sinyal bahwa transformasi yang dijalankan Danantara mulai memberi dampak nyata.
Wakil Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Rusdi Ali Hanafia, menyebut hasil tersebut layak diapresiasi. Menurut dia, penguatan tata kelola, restrukturisasi, dan pembenahan manajemen yang dilakukan berada pada jalur yang tepat.
“Ini patut diapresiasi karena hasilnya mulai terlihat nyata,” kata Rusdi dalam keterangannya, dikutip Selasa, 30 Juni 2026. Rusdi juga menjabat Ketua Umum Seknas Indonesia Maju.
Ia menilai perbaikan kinerja itu menunjukkan pengelolaan aset negara kini berlangsung lebih profesional, efisien, dan diarahkan untuk menciptakan nilai tambah bagi bangsa. Sebelumnya, transformasi perusahaan pelat merah di bawah koordinasi BPI Danantara juga disebut berjalan lebih terukur, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Data periode April 2025 sampai April 2026 memperlihatkan peningkatan laba yang cukup besar di berbagai sektor. Pertamina membukukan laba Rp24,9 triliun, naik Rp11 triliun atau 80 persen. MIND ID mengantongi laba Rp14,1 triliun, tumbuh Rp3,3 triliun atau 31 persen. Pupuk Indonesia juga mencatat kenaikan tajam, dari sisi laba menjadi Rp4,8 triliun atau melonjak Rp3,2 triliun setara 202 persen.
Di sektor keuangan, Bank BRI mencatat laba Rp21,2 triliun atau naik 15 persen. Bank Mandiri menyusul dengan laba Rp21,3 triliun atau naik 13 persen. Bank BTN mencatat lonjakan paling tinggi secara persentase, yakni 1.339 persen menjadi Rp1,4 triliun. Sementara itu, BSI membukukan laba Rp2,8 triliun atau tumbuh 18 persen, dan BNI meraih Rp7,2 triliun atau naik 6 persen.
Sejumlah perusahaan yang sebelumnya berada di zona merah juga berhasil membalik keadaan. Krakatau Steel berubah dari rugi Rp981 miliar menjadi untung Rp635 miliar, setelah restrukturisasi dan dukungan modal dari Danantara Asset Management (DAM).
LEN pun mencatat pemulihan signifikan, dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar. Kimia Farma juga berbalik dari rugi Rp160 miliar menjadi laba Rp108 miliar.
Semen Indonesia turut memperbaiki kinerja dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar. Danareksa berubah dari rugi Rp72 miliar menjadi laba Rp43 miliar, sedangkan Agrinas Pangan melesat dari rugi Rp12 miliar menjadi laba Rp465 miliar.
Selain perusahaan yang berbalik untung, beberapa BUMN lain juga membukukan pertumbuhan laba tinggi. Pegadaian mencatat laba Rp4,3 triliun atau naik 87 persen. Pelindo meraih Rp1,5 triliun atau tumbuh 169 persen. Hutama Karya membukukan Rp628 miliar atau naik 40 persen, sedangkan InJourney mencatat Rp300 miliar atau bertambah 33 persen.
Adhi Karya juga mencatat lonjakan tajam dengan laba Rp69 miliar atau naik 667 persen. Sucofindo membukukan Rp151 miliar atau tumbuh 49 persen. ID Survey meraih laba Rp265 miliar atau naik 10 persen, dan Surveyor Indonesia mencatat Rp78 miliar atau meningkat 10 persen.
Rusdi menegaskan, capaian tersebut tidak bisa dibaca hanya sebagai angka di laporan keuangan. “Keberhasilan ini bukan sekadar angka dalam laporan keuangan, tetapi menunjukkan bahwa transformasi yang dijalankan Danantara mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing BUMN,” ujarnya.

