Bogor – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University meluncurkan insinerator minim asap di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menjelang Hari Lingkungan Hidup Nasional 2026. Insinerator ini dirancang untuk membakar sampah pada suhu tinggi, mengurangi volume dan bahaya limbah.
Inovasi ini bertujuan mengatasi pengelolaan sampah desa yang masih mengandalkan pembakaran terbuka. Alat ini mampu mengurangi asap dan timbunan sampah, serta mudah digunakan masyarakat.
Indra Bagus Ramdhani, perwakilan tim KKNT, menjelaskan bahwa inovasi ini muncul karena banyaknya tumpukan sampah yang mencemari sungai. "Kami melihat ada masalah sampah di Desa Cicadas ini, seperti banyak tumpukan sampah liar, bahkan ada yang membuang sampah ke sungai," ujarnya dari laman resmi IPB University.
Menurutnya, minimnya akses ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) membuat warga membakar sampah di rumah. Cara ini praktis, tetapi berdampak buruk pada kualitas udara dan kesehatan. Mahasiswa KKNT IPB University merancang insinerator minim asap sebagai solusi tepat guna.
Permasalahan sampah bukan hanya karena kurangnya kesadaran lingkungan, tetapi juga keterbatasan fasilitas. Akma Naufal Rabbani, anggota tim KKNT, mengatakan bahwa kurangnya infrastruktur menjadi masalah besar. "Masalah yang paling besar adalah minimnya infrastruktur sampah. Hampir di sebagian RT atau RW tidak memiliki infrastruktur maupun sistem pengelolaan sampah," katanya.
Akma juga menyoroti rendahnya kesadaran warga membayar iuran sampah, yang menyebabkan penundaan pengangkutan sampah. "Pengangkutan sampah secara komunal sering terhenti. Kadang bisa sampai mandek, bahkan sampai tiga bulan," tambahnya. Insinerator minim asap menjadi solusi alternatif untuk mengurangi kebutuhan pengangkutan sampah.
Setelah uji coba selama sebulan, tidak terjadi penambahan volume sampah yang signifikan. "Pengeluaran warga untuk pengangkutan sampah yang sebelumnya sekitar satu juta rupiah per sekali angkut dapat ditekan, cukup dengan biaya operasional petugas kebersihan," terang Akma.
Secara teknis, insinerator ini terbuat dari bata hebel dengan ruang bakar memanjang dan pengaturan aliran udara untuk api yang stabil dan asap yang berkurang. Fitur ini memungkinkan masyarakat membakar sampah tanpa mencemari udara.
Akma menambahkan bahwa insinerator minim asap disambut baik oleh warga dan aparat desa. "Perwakilan RT, RW, dan Pak Lurah hadir dan menyampaikan rasa syukur atas kehadiran tim kami membangun insinerator ini," ucapnya.
Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University berencana membuat insinerator serupa di 32 wilayah lain. "Tujuan awal kami memang untuk direplikasi di 32 RT lainnya. Desainnya kami buat semudah mungkin agar bisa ditiru dan diaplikasikan," terang Akma. Ia berharap inovasi ini dapat diterapkan di wilayah lain dan menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan dan kesehatan lingkungan.

