BUDAPEST – Menjelang babak final Liga Champions di Budapest, Paris Saint-Germain (PSG) disebut memiliki keunggulan fisik dibandingkan Arsenal berkat strategi rotasi pemain yang matang sepanjang musim. Namun, kondisi bugar tersebut justru bisa menjadi pedang bermata dua bagi tim asuhan Luis Enrique saat berhadapan dengan The Gunners.
Sepanjang musim ini, Luis Enrique dikenal sangat cermat mengelola menit bermain para pemainnya. Sejumlah pilar seperti Marquinhos, Ousmane Dembélé, hingga João Neves bahkan sengaja disimpan di kompetisi domestik agar berada dalam kondisi puncak di Eropa. PSG pun memiliki waktu pemulihan mencapai 13 hari, jauh lebih panjang dibandingkan Arsenal yang hanya memiliki jeda enam hari setelah menyelesaikan musim Liga Inggris yang padat.
Di sisi lain, Arsenal justru memiliki keunggulan dalam hal ritme pertandingan. Hingga jelang final, anak asuh Mikel Arteta terus ditempa dalam laga kompetitif berintensitas tinggi di Liga Premier. Data menunjukkan bahwa lima pemain Arsenal telah mencatatkan lebih dari 4.000 menit bermain musim ini, seperti William Saliba yang telah tampil lebih dari 4.100 menit.
Meski statistik menunjukkan PSG lebih unggul dalam aspek risiko cedera otot yang minim, pakar performa olahraga, Stephen Smith, mengingatkan bahwa ketajaman pertandingan adalah variabel yang berbeda. Menurutnya, kurangnya menit bermain kompetitif dapat membuat pemain kehilangan stimulasi fisik yang diperlukan.
“Bukan soal siapa yang lebih banyak beristirahat, tetapi siapa yang memiliki keseimbangan tepat antara pemulihan dan stimulasi,” ujar Smith.
Menyadari potensi penurunan ritme tersebut, PSG pun menggelar serangkaian pertandingan internal dengan intensitas tinggi sebagai simulasi untuk menjaga ketajaman para pemain. Langkah ini menunjukkan bahwa PSG berupaya mencari pengganti atmosfer pertandingan sesungguhnya yang sudah dimiliki Arsenal secara alami dari jadwal Liga Inggris.
Pada akhirnya, final di Budapest akan menjadi ajang pembuktian apakah kebugaran fisik PSG atau ritme kompetitif Arsenal yang akan menjadi faktor penentu. Meski Arsenal datang dengan kelelahan yang lebih besar, ketajaman pertandingan yang terjaga dapat menjadi ancaman serius yang mampu mengubah keuntungan istirahat PSG menjadi bumerang.

