JAKARTA – Emiten kontraktor pertambangan batu bara, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), berhasil menekan kerugian bersih hingga 66 persen secara tahunan menjadi US$ 24 juta pada kuartal I-2026. Angka tersebut membaik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan kerugian sebesar US$ 70 juta.
Direktur BUMA Internasional Grup, Iwan Fuad Salim, menyatakan bahwa perbaikan kinerja keuangan ini merupakan hasil dari upaya pemulihan yang dijalankan sejak tahun lalu. Meski menghadapi tantangan musiman, perusahaan mampu mencatatkan efisiensi yang lebih baik.
“EBITDA meningkat hampir dua kali lipat secara tahunan meskipun pendapatan lebih rendah, didukung oleh disiplin biaya yang lebih kuat dan peningkatan produktivitas,” ujar Iwan dalam keterangan resmi, Minggu (31/5/2026).
Sepanjang kuartal I-2026, EBITDA perusahaan tercatat melonjak 98 persen dari US$ 14 juta menjadi US$ 28 juta. Sejalan dengan itu, margin EBITDA juga naik menjadi 11 persen, meningkat dari capaian 5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pendapatan BUMA tercatat sebesar US$ 318 juta, turun 10 persen secara tahunan. Meski volume produksi menurun, rata-rata harga jual bisnis kontraktor pertambangan justru naik 3 persen secara tahunan (*year on year*). Kenaikan ini ditopang oleh porsi kontrak *rise-and-fall* yang lebih tinggi serta adanya penyesuaian tarif berjenjang yang mengikuti harga batu bara.
Terkait operasional, volume *overburden removal* menyusut 12 persen menjadi 89 juta *bank cubic meters*, sementara produksi batu bara turun 20 persen menjadi 15 juta ton.
Iwan menjelaskan bahwa penurunan volume produksi tersebut dipicu oleh berakhirnya masa kontrak di lokasi tambang Binungan, Indonesia, dan Burton, Australia. Selain itu, terdapat pula aktivitas *ramp-down* di dua lokasi tambang lainnya di Indonesia yang sudah berlangsung sejak 2025.

