NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona hijau pada perdagangan Kamis (14/5/2026). Penguatan ini didorong oleh reli saham sektor teknologi di tengah optimisme pasar terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta perhatian investor terhadap pertemuan strategis Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Tiga indeks utama Wall Street kompak mencatatkan kenaikan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali menembus rekor penutupan tertinggi baru, sementara indeks Dow Jones Industrial Average nyaris menyamai rekor tertingginya yang dicapai pada 10 Februari lalu.
Secara rinci, Dow Jones menguat 370,26 poin atau 0,75% ke level 50.063,46. Indeks S&P 500 naik 56,99 poin atau 0,77% ke level 7.501,24, dan Nasdaq Composite bertambah 232,88 poin atau 0,88% ke level 26.635,22.
Sektor teknologi menjadi motor penggerak utama penguatan, sementara sektor material justru mencatatkan penurunan terdalam. Meski reli terus berlanjut, sejumlah analis mulai mewaspadai potensi kejenuhan pasar di tengah tren pencetakan rekor harga saham.
Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping menjadi sorotan utama pelaku pasar global. Agenda tersebut membahas berbagai isu krusial mulai dari perdagangan, penjualan senjata AS ke Taiwan, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz pascakonflik AS-Israel dengan Iran.
Trump turut didampingi oleh petinggi perusahaan teknologi besar, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang. Saham Nvidia melonjak 4,4% setelah pemerintah AS memberikan lampu hijau atas penjualan chip H200 ke perusahaan-perusahaan di China.
Di sisi lain, pergerakan saham perusahaan semikonduktor dan AI lainnya cenderung bervariasi. Saham Qualcomm, Intel, Sandisk, dan Micron justru terkoreksi di kisaran 3,4% hingga 6,1%. Sementara itu, saham perusahaan chip AI, Cerebras, mencatatkan debut fantastis dengan lonjakan harga sebesar 68,2%.
Dari sektor lain, saham Cisco melesat 13,4% ke rekor tertinggi setelah perusahaan mengumumkan efisiensi melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan serta menaikkan proyeksi pendapatan tahunan. Sebaliknya, saham Boeing tertekan turun 4,7% meski terdapat kabar rencana China untuk membeli 200 pesawat Boeing.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data penjualan ritel AS yang sesuai ekspektasi. Namun, kenaikan tersebut disinyalir terjadi karena lonjakan harga bensin akibat eskalasi perang Iran, yang juga memicu kenaikan harga impor tertinggi sejak Oktober 2022.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa inflasi akibat harga energi dapat berdampak luas. Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menegaskan bahwa inflasi tetap menjadi risiko paling mendesak bagi ekonomi AS, sehingga memperkecil peluang bank sentral untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

