Jakarta – Melambungnya harga Minyakita di pasaran, yang kini bahkan menembus harga eceran tertinggi (HET), dinilai menjadi cerminan lemahnya kemampuan pemerintah dalam menstabilkan pangan. Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menyebut kondisi itu sekaligus memperlihatkan belum adanya strategi yang efektif dari jajaran terkait untuk merespons gejolak harga kebutuhan pokok.
Sorotan Efriza mengarah langsung kepada Zulkifli Hasan atau Zulhas, yang memegang peran sebagai menteri koordinator bidang pangan sekaligus salah satu penggagas Minyakita. Kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Kamis, 14 Mei 2026, ia mengatakan Zulhas tidak menunjukkan kesiapan yang memadai dalam menghadapi berbagai persoalan pangan.
“Ini menunjukkan Zulhas sebagai Menko Pangan memang tidak punya strategi menghadapi berbagai persoalan terkait stabilisasi harga pangan maupun kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Efriza.
Ia menilai dampak dari kenaikan harga tersebut paling berat akan dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam beberapa bulan terakhir, kata dia, lonjakan harga minyak goreng komersial sudah lebih dulu menekan daya beli rumah tangga dan memunculkan kekecewaan publik.
“Harus diakui, sudah beberapa bulan ini harga minyak goreng komersial melonjak tinggi. Hal itu memicu kekecewaan publik karena respons pemerintah dinilai minim dan terlambat,” tuturnya.
Efriza juga mengingatkan pemerintah Presiden Prabowo Subianto agar segera mengambil langkah korektif. Jika persoalan ini dibiarkan, menurut dia, dampaknya bisa merembet ke harga kebutuhan pokok lain.
“Dengan pemerintah malah menaikkan harga Minyakita, potensi kenaikan harga kebutuhan pokok lain akan semakin terbuka dan merangkak naik,” kata dia.
Sementara itu, harga Minyakita di tingkat pedagang eceran secara nasional saat ini berada di kisaran Rp15.915 hingga Rp15.961 per liter. Angka tersebut masih lebih tinggi dari HET resmi pemerintah yang dipatok Rp15.700 per liter.
Di sejumlah daerah, harga jualnya bahkan jauh di atas rata-rata nasional. Di Cirebon, Minyakita tercatat mencapai Rp19.500 per liter, sedangkan di Medan nilainya menembus Rp21.000 per liter.

