JAKARTA – Dua emiten raksasa di bawah naungan Grup Indofood, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), mencatatkan hasil kinerja keuangan yang kontras pada kuartal I-2026. Meskipun kedua perusahaan kompak mencetak pertumbuhan penjualan, laba bersih keduanya menunjukkan tren yang berbeda.
INDF berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,95 triliun, tumbuh 8,59% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp 2,72 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan neto konsolidasi sebesar 7,4%, yakni menjadi Rp 33,89 triliun.
Sebaliknya, ICBP justru mengalami penurunan laba bersih sebesar 3,11% menjadi Rp 2,57 triliun, turun dari Rp 2,66 triliun pada kuartal I-2025. Padahal, penjualan neto konsolidasi ICBP tercatat masih tumbuh 7,57% secara tahunan menjadi Rp 21,72 triliun.
Direktur Utama dan CEO Indofood, Anthoni Salim, menyatakan bahwa perusahaan tetap berupaya menjaga kinerja di tengah tantangan tensi geopolitik global. Fokus utama perusahaan ke depan adalah menjaga pertumbuhan berkelanjutan dengan menyeimbangkan pangsa pasar dan profitabilitas, sembari memperkuat posisi neraca keuangan.
Analis menilai perbedaan kinerja laba antara kedua emiten ini dipicu oleh struktur bisnis yang berbeda. INDF, sebagai perusahaan induk, dinilai lebih diuntungkan oleh diversifikasi segmen bisnis, terutama dari sektor agribisnis dan komoditas yang saat ini berada dalam fase harga yang baik.
Sementara itu, ICBP yang fokus pada produk konsumer kini menghadapi tekanan margin akibat kenaikan harga bahan baku, seperti gandum dan komponen impor lainnya, di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Hal inilah yang menyebabkan profitabilitas ICBP tergerus meski volume penjualan masih mengalami pertumbuhan.
Ke depannya, INDF dinilai lebih defensif karena diversifikasi bisnisnya dapat menjadi bantalan saat salah satu segmen melemah. Di sisi lain, prospek ICBP akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam melakukan efisiensi biaya bahan baku dan menjaga kekuatan harga (pricing power).
Para investor kini mencermati pergerakan harga saham kedua emiten tersebut. Untuk INDF, strategi yang disarankan adalah *hold* atau *sell on strength*. Aksi beli direkomendasikan jika harga mampu menembus level *resistance* di atas Rp 7.050, yang berpotensi memicu pola *bullish reversal*.
Sementara itu, ICBP menunjukkan sinyal *speculative buy* di level Rp 6.800. Investor disarankan untuk melakukan *average up* apabila harga saham bergerak di atas level Rp 6.925 hingga Rp 7.125, dengan target kenaikan bertahap hingga kisaran Rp 7.900–Rp 8.000.

