Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis terhadap prospek pasar modal Indonesia, menyusul Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level mendekati 9.000. Menurutnya, pencapaian ini baru permulaan dan akan terus berlanjut seiring perbaikan ekonomi.
“Jadi yang itu, IHSG yang naik ke 9.000 itu tadi, itu baru awal,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA Tahun 2025 di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (8/1).
Ia meyakini bahwa pengelolaan ekonomi yang berkelanjutan akan mendorong IHSG mencapai level terbaiknya. “Perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita manage ke arah perbaikan terus ke depan,” imbuhnya.
Menkeu Purbaya juga menyoroti tren positif pasar modal Indonesia, yang mengalami penurunan sejak awal tahun 2025, kemudian tertekan lebih dalam pada September 2025. Namun, tren tersebut berbalik positif mulai Oktober hingga Desember 2025.
Hal ini mendorong investor asing kembali masuk ke pasar modal Indonesia dengan total nilai mencapai Rp 6,1 triliun pada Desember 2025.
“Trennya menuju ke positif dan di Desember sudah positif dengan total inflow mencapai Rp 6,1 Triliun. Di bulan November-Desember mencapai Rp 46,8 triliun,” jelasnya.
Selain itu, pada Desember 2025, Surat Berharga Negara (SBN) mencatat inflow sebesar Rp 6,49 triliun, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 27,40 triliun, dan saham sebesar Rp 12,24 triliun.
Purbaya meyakini kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia telah kembali ke tren positif, dan investor asing akan terus berinvestasi pada tahun 2026.
“Artinya, asing sudah masuk ke sini lagi. Inflow ya. Kalau inflow kan asing kan. Jadi, sudah masuk ke sini lagi. Jadi, Anda lihat di sini, kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan kita sudah kembali. Dan ini dilanjutkan, saya yakin akan terus berlanjut di tahun 2026 ini,” tegasnya.
Sebelumnya, IHSG dibuka di zona hijau dan hampir menyentuh level 9.000, tepatnya 8.964 pada pembukaan perdagangan Kamis (8/1). Pada pukul 13.45 WIB, IHSG mencetak rekor dengan penguatan 0,22 persen atau 19,24 basis poin.
Data RTI Business mencatat volume transaksi perdagangan mencapai 36.322 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 17.762 triliun dan frekuensi transaksi 2.634.412 kali.

