Jakarta – Indonesia dipastikan tidak perlu impor gas alam cair (LNG) pada awal tahun 2025. Kepastian ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menggarisbawahi optimalisasi produksi gas dalam negeri.
Menurut Bahlil, produksi gas bumi Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai rata-rata 5.600 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD).
Dari total produksi tersebut, 31% atau sekitar 1.691 BBTUD akan dialokasikan untuk ekspor. Sementara sisanya, 3.908 BBTUD, akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Berkat kerja keras kita semua, pada 2025 kita tidak melakukan impor gas. Seluruh produksi gas kita dimanfaatkan, sebagian untuk kebutuhan dalam negeri dan sebagian untuk ekspor. Ini berbeda dengan kondisi minyak,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Sektor hilirisasi industri dan pupuk menjadi penyerap gas bumi terbesar untuk kebutuhan domestik, dengan total 2.091 BBTUD.
Dari sisi lifting, produksi gas bumi tahun 2025 tercatat sebesar 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Angka ini masih di bawah target APBN 2025 yang dipatok sebesar 1,05 juta MBOEPD.
Lebih lanjut, Bahlil menyoroti penurunan kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minyak dan gas.
Pada tahun 2025, PNBP migas hanya mencapai Rp105,04 triliun, atau 83,7% dari target sebesar Rp125,46 triliun.
Penurunan ini, menurut Bahlil, disebabkan oleh selisih asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP). Pemerintah menetapkan ICP sebesar US$80 per barel dalam APBN 2025, sementara harga rata-rata minyak sepanjang tahun hanya berada di kisaran US$68 per barel.
“Lifting tercapai, tetapi harga sedang turun. Harga komoditas memang sedang melemah,” pungkas Bahlil.

