JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah diprediksi akan melanjutkan tren penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (3/8/2026).
Optimisme pasar muncul setelah mata uang Garuda mencatatkan performa impresif dengan penguatan harian sebesar 0,49% ke level Rp 18.022 per dolar AS pada penutupan akhir pekan lalu.
Meski demikian, penguatan tersebut belum mampu menghapus catatan kinerja mingguan yang masih terkoreksi sebesar 0,32% dari posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat sebelumnya.
Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menyatakan bahwa pergerakan rupiah akan menguat terbatas terhadap dolar AS di awal pekan ini.
Ia memberikan catatan penting bahwa mata uang domestik tetap memiliki kerentanan untuk kembali melemah jika gejolak geopolitik global meningkat.
Faktor ketidakpastian pasar semakin diperkuat dengan adanya fluktuasi harga komoditas energi yang cukup tajam.
Harga minyak dunia dilaporkan kembali anjlok sebesar 6% dalam perdagangan pagi ini yang turut memengaruhi sentimen investor global.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar kini tengah memusatkan perhatian pada serangkaian rilis data ekonomi global, khususnya indeks PMI manufaktur di negara-negara maju.
Dari sisi domestik, fokus utama para pelaku pasar terletak pada rilis data inflasi, neraca perdagangan, serta kinerja PMI manufaktur Indonesia.
Myrdal memproyeksikan inflasi Indonesia pada Juli 2026 akan mengalami sedikit perlambatan menjadi 0,39% secara bulanan.
Sebagai perbandingan, angka inflasi pada Juni 2026 tercatat berada di level 0,44% secara bulanan.
Secara tahunan, inflasi nasional diproyeksikan akan berada di level 3,43%.
Ia menjelaskan, tekanan inflasi masih berasal dari kenaikan harga pangan seperti cabai merah, telur ayam, dan daging ayam, serta meningkatnya biaya pendidikan pada periode tahun ajaran baru.
Namun, ia menambahkan bahwa penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex membantu meredam tekanan inflasi.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental tersebut, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang cukup ketat hari ini.
Proyeksi pergerakan nilai tukar rupiah pada hari ini berada di kisaran level Rp 18.029 per dolar AS hingga Rp 18.111 per dolar AS.
Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas yang mungkin terjadi di tengah ketidakpastian data ekonomi global.
Kondisi ini menuntut kehati-hatian investor dalam mengambil posisi di pasar uang selama awal pekan ini.
Stabilisasi harga komoditas akan menjadi kunci utama bagi pergerakan mata uang negara berkembang dalam beberapa hari ke depan.


