Jawa Barat – Keberhasilan Jawa Barat menekan kehilangan pangan diproyeksikan berdampak signifikan pada stabilitas ketahanan pangan nasional. Produksi beras Jabar pada 2025 mencapai 10,23 juta ton gabah kering giling (GKG). Di sisi lain, timbulan sampah mencapai 24.882,78 ton per hari, dengan 39,02 persen berupa sisa makanan.
Eka mengingatkan, tanpa penanganan serius dan terintegrasi, kondisi tersebut berpotensi memperberat beban lingkungan, meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, serta menimbulkan inefisiensi ekonomi jangka panjang. Data statistik melukiskan paradoks mengkhawatirkan di tengah status Jabar sebagai penyangga utama ketahanan pangan nasional.
Angka produksi gabah yang surplus, "seolah tercederai oleh fakta bahwa hampir separuh dari total sampah harian yang dihasilkan justru berasal dari makanan yang terbuang sia-sia." Fenomena ini bukan sekadar masalah teknis pengelolaan limbah, melainkan cerminan inefisiensi sistemik dalam rantai konsumsi masyarakat yang berdampak langsung.
Jika ribuan ton sisa makanan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir tanpa pengolahan tepat, proses pembusukan alami akan melepaskan gas metana yang memperparah emisi gas rumah kaca, sekaligus menjadi bom waktu bagi krisis sanitasi lingkungan. Urgensi mengubah perilaku konsumsi dan menerapkan teknologi pengolahan sampah organik menjadi keharusan demi menyelamatkan ekosistem dan ekonomi daerah.

