Tapanuli Tengah – Data Pusdalops PB Sumut mencatat 4.843 korban bencana hidrometeorologi November 2025 masih mengungsi. Laporan di Medan menyebutkan ribuan jiwa dari 1.412 KK itu mengungsi di Tapanuli Tengah.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati menyatakan data tersebut merupakan data sementara yang diterima Pusdalops PB Sumut per 15 Maret 2026 pukul 17.00 WIB.
"Data ini merupakan update per 15 Maret 2026 pukul 17.00 WIB," ujar Sri.
Sri menambahkan, penanganan bencana terus dilakukan oleh berbagai pihak terkait. Data Pusdalops Sumut mencatat 20 kabupaten/kota di Sumut dilanda bencana alam akhir tahun lalu.
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Sumatera berhasil merelokasi pengungsi bencana hidrometeorologi di Sumut. Pengungsi banjir dan longsor telah meninggalkan tenda pengungsian dan beralih ke hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap).
Laporan harian Satgas PRR per 14 Maret mencatat penurunan jumlah pengungsi signifikan. Semula 1.314 KK berada di tenda, kini 812 KK atau berkurang 502 KK. Pengungsi yang masih di tenda seluruhnya berada di Aceh.
Pembangunan huntara terus dikebut. Dari rencana 19.295 unit huntara di tiga provinsi terdampak, 15.595 unit telah selesai dibangun. Pembangunan huntara di Sumbar mencapai 100 persen, Sumut 95 persen, dan Aceh 77 persen.
Satgas PRR juga merampungkan pembangunan huntap. Data per 14 Maret, 110 unit huntap selesai dibangun dari 36.669 huntap yang akan dibangun, serta 1.359 unit dalam proses pembangunan.
Pemerintah juga memberikan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi penyintas yang tidak memilih tinggal di huntara. Penyaluran dana mencapai 100 persen untuk 13.728 penerima di tiga provinsi.
Ketua Satgas PRR Sumatera, Muhammad Tito Karnavian menegaskan komitmen mengurangi jumlah pengungsi dengan merelokasi mereka ke hunian layak.
"Jadi, kalau masih ada di tenda-tenda, ini sudah masuk di bulan ketiga, bulan ketiga setelah akhir November, tidak elok kalau mereka masih di tenda," ujar Tito.

