IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Berita

Aksi Kamisan Rayakan 19 Tahun, Tuntut Keadilan HAM di Istana

Jakarta – Aksi Kamisan kembali digelar di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis sore, menandai 19 tahun aksi rutin keluarga korban pelanggaran HAM berat.

Peserta aksi mengenakan pakaian hitam dan membawa payung hitam, simbol duka dan perlawanan terhadap lupa. Keluarga korban, aktivis, mahasiswa, dan seniman turut hadir menuntut penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat secara adil. Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap lupa dan pengingat perjuangan keadilan bagi korban. Suara keluarga korban, musisi, dan generasi muda bersatu menjaga cerita tetap hidup.

Musisi Baskara Putra (Hindia) merefleksikan pemahamannya tentang Aksi Kamisan. "Awalnya saya berpikir, kenapa orang-orang ini ngumpul, berdiri pakai pakaian gelap-gelap, kenapa kuat lawan matahari terik. Kenapa harus di satu titik, di momen yang sama, berulang kali," ujarnya.

Pemahaman Baskara berubah setelah berdiskusi dengan kawan kampus dan berbincang dengan Sumarsih, ibu korban pelanggaran HAM. "Saat itu pertanyaan saya malah kebalik. Kok bisa marahnya segini doang? Kok bisa mereka tidak lebih marah? tidak lebih sedih? tidak lebih kecewa?" katanya.

Baskara menilai keluarga korban mampu mengolah kemarahan menjadi aksi damai yang konsisten. "Ini bukan hal mudah, ini bukan hal sepele. Bisa mengolah kemarahan untuk mendorong solidaritas tiap minggu, tiap Kamis. Ini pengingat bahwa ada banyak kasus yang belum selesai," ungkapnya. Ia menambahkan banyak persoalan HAM tidak selalu mendapat ruang pemberitaan.

IKEA Indonesia Ajak Masyarakat Luangkan Ruang untuk Rumah Adaptif

Baskara menyoroti komentar warganet yang menyebut Aksi Kamisan sebagai isu musiman. Ia menceritakan pengalamannya melihat video Aksi Kamisan di TikTok saat pemilu. "Terus terang saya sakit hati membacanya. Padahal saya tidak setiap minggu berada di sini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya membaca komentar seperti itu bagi kawan-kawan yang secara konsisten hadir setiap Kamis," ujarnya.

Ia menemukan komentar tersebut berasal dari kalangan muda. "Secara demografi mereka masih muda. Ironisnya, sebagian dari mereka juga berasal dari ekosistem musik dan budaya yang justru sering berbicara tentang kritik sosial," katanya. Menurutnya, hal ini menunjukkan minimnya pemahaman generasi muda terhadap Aksi Kamisan.

Baskara memutuskan menjadikan cerita keluarga korban sebagai bagian dari karya kreatifnya. "Buat saya, seniman itu storyteller. Sejarah itu cerita. Kalau kita lupa ceritanya, kejahatan bisa terulang," tuturnya. Ia percaya cerita tentang korban harus diwariskan lintas generasi. "Kalau bisa masuk album, masuk album. Kalau bisa masuk ruang-ruang lain, masuk ke sana. Keberpihakan itu selalu bisa dilakukan selama kita mau," tutupnya.

Azka, mahasiswa UIN Jakarta, berharap kasus pelanggaran HAM dapat diselesaikan. "Selama 19 tahun ini pemerintah tidak benar-benar serius menangani pelanggaran HAM," ujar Azka.

Azka menegaskan pentingnya peran mahasiswa dalam gerakan sosial seperti Aksi Kamisan. "Mahasiswa harus peduli dan terlibat. Ini bagian dari kebebasan berpendapat," katanya. Ia menyoroti belum adanya pejabat tinggi negara yang menemui peserta Aksi Kamisan. Peserta aksi berharap pemerintah membuka dialog dan menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu.

Satgas PRR Dorong Sibolga Segera Salurkan TKD Rp90,52 Miliar

Komentar

Berita Populer

01

Harapan Shin Tae-yong untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

02

UMKM Blok M Hengkang: Kenaikan Sewa Picu Eksodus Massal Tenant

03

BPS Catat Ekonomi Sumbar Tumbuh 5,02 Persen di Triwulan I-2026

04

BPBD Catat 54 RT di Jakarta Tergenang Air Akibat Hujan

05

Pasar Saham Terancam Kehilangan Modal Asing Senilai Rp31 Triliun

06

Alex Noerdin Meninggal Dunia, Kasus Korupsi Dihentikan Kejaksaan Agung

07

YouTuber Muda Kecam Pembatasan Medsos, Kreator Kecil Terancam Kehilangan Penghasilan

08

Komisi VII Dorong KUR Ekraf Ditambah, Akses Modal Masih Terbatas

Berita Terbaru