Berita

Kekuasaan Tumbang Saat Internal Runtuh dan Pengaruh Asing Menguat

israel,-bangsa-parasit-di-muka-bumi?
Israel, Bangsa Parasit di Muka Bumi?

Jakarta – Kejatuhan sebuah imperium besar kerap bermula dari dalam, bukan semata karena serangan luar. Pola itu, menurut tulisan ini, pernah dialami Utsmaniyah, Uni Soviet, dan kini dijadikan cermin untuk membaca masa depan Amerika Serikat di tengah menguatnya pengaruh politik global, lobi pro-Israel, serta perebutan kendali atas arah dunia.

Selama lebih dari enam abad, Utsmaniyah berdiri sebagai lambang kekuatan Islam. Tetapi memasuki penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, fondasi kekaisaran itu disebut mulai rapuh. Nasionalisme tumbuh di berbagai wilayah, sekularisme dan modernisasi ala Barat merasuk ke kalangan elit, sementara gerakan separatis merebak di banyak daerah.

Di saat yang sama, kerajaan digambarkan larut dalam pesta, abai terhadap keadaan rakyat, terlilit utang, dan semakin tunduk pada logika pasar bebas. Situasi itu, menurut teks, membuka jalan bagi berbagai bentuk tekanan dari luar, mulai dari invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, indoktrinasi, intimidasi, hingga inflasi. Dampaknya ialah ketidakstabilan dan pemiskinan struktural.

Ketika fondasi internal kian lemah, pengaruh asing makin mudah menentukan arah politik kekaisaran. Dari titik itulah Mustafa Kemal Atatürk kemudian tampil sebagai tokoh utama Republik Turki modern yang menggantikan sistem kekhalifahan.

Bagi sebagian umat Islam, perubahan tersebut bukan sekadar peralihan bentuk negara. Mereka memandangnya sebagai runtuhnya simbol persatuan dunia Islam setelah berumur sekitar tujuh abad, sebuah peristiwa yang dilihat sebagai pertemuan antara hukum sejarah dan tindakan manusia.

Tanah Datar Perkuat Mitigasi Kecelakaan di Padang Panjang-Bukittinggi

Pola serupa lalu disebut muncul di Uni Soviet. Saat krisis ekonomi memburuk, Mikhail Gorbachev meluncurkan glasnost dan perestroika untuk menyelamatkan negara. Reformasi itu membawa keterbukaan dan demokrasi di tengah tekanan Perang Dingin dan tingginya inflasi.

Namun hasilnya justru berbalik. Republik-republik anggota Soviet satu per satu memisahkan diri, nasionalisme menguat, dan struktur negara yang selama puluhan tahun tampak kokoh akhirnya runtuh pada 1991. Uni Soviet pecah menjadi 14 negara.

Bagi para pendukung reformasi, perubahan itu dipandang sebagai jalan menuju kebebasan. Sebaliknya, kelompok komunis garis keras melihatnya sebagai awal kehancuran sebuah adidaya.

Dalam bagian lain, teks ini mengkritik penggunaan konsep-konsep global seperti pembangunan model Barat, hak asasi manusia, demokrasi, liberalisme, sistem keuangan global, dan sekularisme. Menurut pandangan tersebut, istilah-istilah itu kerap dipakai sebagai instrumen pengaruh politik dan dipromosikan sebagai standar universal bagi seluruh dunia.

Di satu sisi, gagasan-gagasan itu memang membawa kemajuan di banyak bidang. Tetapi di sisi lain, tidak sedikit negara menilai penerapannya berlangsung selektif, bergantung pada kepentingan kekuatan besar. Kondisi itu disebut sebagai standar ganda, bahkan kemunafikan struktural.

KPU Sumbar dan Bawaslu Matangkan Pengawasan Data Pemilih

Tulisan itu juga menyinggung dominasi oligarki politik, ekonomi, dan intelektual yang dinilai terus menjaga sistem, kebijakan, regulasi, standarisasi, supervisi, dan instrumentasi demi kelangsungan kekuasaan global. Karena itu, pasar dan isu-isu internasional dipandang tidak netral.

Rule-based order, misalnya, disebut mengandung agenda politik yang menguntungkan Amerika Serikat dan G7. Di balik pernyataan yang tampak di permukaan, teks menyebut ada agenda tersembunyi. Ketika dolar, teknologi, dan militer dipakai sebagai alat tekanan, para pesaing muncul. Namun, dalam situasi terdesak, mereka disebut memilih competitive coexistence ketimbang persaingan penuh.

Tulisan itu juga mengutip pandangan bahwa China dan Rusia tetap membutuhkan Amerika Serikat. Dengan logika yang sama, itu berarti tetap membutuhkan Israel. Di sisi lain, teks menyebut Israel tanpa dukungan AS dan Inggris nyaris dikesampingkan banyak negara di dunia.

Dari sana, pertanyaan berikutnya mengemuka: apakah Amerika Serikat akan mengalami nasib serupa dengan Utsmaniyah dan Uni Soviet? Keraguan itu, menurut teks, muncul karena kuatnya pengaruh lobi pro-Israel dalam politik Amerika, termasuk melalui organisasi seperti AIPAC.

Kritik yang sama menyasar Donald Trump, yang dinilai bukan sedang menjalankan agenda Make America Great Again, melainkan Make Israel Great Again. Bagi para pengkritik, ketergantungan pada kepentingan luar akan membuat sebuah negara kehilangan arah dan berisiko merosot dari dalam.

Zigo Rolanda Dorong RAPBN 2027 Perkuat Infrastruktur dan Kesejahteraan Rakyat

Meski belum ada jawaban pasti mengenai masa depan Amerika, teks ini menegaskan satu pelajaran historis: setiap kekuatan besar yang gagal menyeimbangkan kepentingan nasional dan tekanan eksternal pada akhirnya akan menghadapi ujian yang sama. Negara sebesar apa pun, menurut pandangan itu, bisa runtuh oleh kebijakan dan perilakunya sendiri.

Istilah Zionisme sebagai “parasit dunia” disebut sebagai sudut pandang yang kontroversial dan tak akan diterima semua pihak. Tetapi argumen itu muncul dari keyakinan bahwa kekuatan-kekuatan besar dalam sejarah tumbang bukan hanya karena kelemahan internal, melainkan juga karena infiltrasi pengaruh dari dalam yang bekerja perlahan.

Pada akhirnya, teks ini menekankan bahwa persoalan dunia bukan semata Israel, Zionisme, Barat, Timur, atau ideologi tertentu. Masalah utamanya, menurut tulisan tersebut, muncul ketika kekuasaan menempatkan diri di atas hukum, keadilan, dan kemanusiaan.

Sejarah, lanjut teks itu, menunjukkan tidak ada imperium yang abadi. Kekuasaan yang dibangun di atas ketidakadilan akan berhadapan dengan hukum sejarah, sementara penindasan terhadap kemanusiaan pada akhirnya memunculkan perlawanan dan krisis.

Karena itu, pelajaran terbesar bukanlah siapa yang menang pada hari ini, melainkan bagaimana mencegah kekuasaan berubah menjadi lalim, serakah, dan terbiasa berbohong. Sebuah bangsa, menurut pandangan ini, jarang hancur karena musuh dari luar semata. Ia lebih sering runtuh saat kehilangan kompas spiritual dan moral dari dalam.

Ketika keadilan dikalahkan kepentingan dan kemanusiaan dikorbankan demi kuasa, saat itulah sejarah mulai menghitung mundur kejatuhan sebuah peradaban.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

06

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru