JAKARTA – Kinerja rata-rata imbal hasil atau yield produk unitlink berbasis saham mencatatkan kontraksi terdalam sepanjang Mei 2026. Berdasarkan data Infovesta, rata-rata return unitlink saham tergerus hingga 4,76% dalam periode satu bulan tersebut, mencerminkan tekanan yang signifikan pada instrumen investasi berbasis ekuitas di pasar modal.
Kendati rata-rata kinerja mengalami pelemahan, sejumlah produk unitlink saham terpantau masih mampu mencetak imbal hasil positif di atas rata-rata pasar. Sepuluh produk unggulan berhasil mencatatkan kinerja di atas performa rata-rata unitlink saham secara keseluruhan.
Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – IDR milik PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia menempati posisi puncak dengan perolehan return sebesar 20,65% pada Mei 2026. Di posisi kedua, Smartwealth Dollar Equity World Opportunities Funds US$ dari PT Asuransi Allianz Life Indonesia mencatatkan imbal hasil sebesar 18,52%. Menyusul di peringkat ketiga, produk Manulife Dana Ekuitas Asia Pasific – USD mencetak return sebesar 17,26%.
Urutan keempat ditempati oleh Manulife Dana Ekuitas Asia Pasifik Syariah – IDR dengan perolehan 15,36%. Posisi kelima dan keenam diisi oleh produk PT Prudential Life Assurance, yakni PRUlink US Dollar Global Tech Equity Income Fund dan PRUlink US Dollar Global Tech Equity Fund, yang masing-masing membukukan imbal hasil sebesar 13,88%.
Selanjutnya, Panin MUL USD Aggressive Fund milik PT Panin Dai-ichi Life menduduki posisi ketujuh dengan return 12,99%. Di posisi kedelapan, Mandiri Golden Offshore USD dari PT AXA Mandiri Financial Services mencatatkan imbal hasil 12,81%. Posisi kesembilan kembali ditempati Manulife melalui produk Manulife Dana Ekuitas Asia Pasifik Syariah – USD sebesar 12,12%, sementara peringkat kesepuluh diisi USD Prime Emerging Market Equity Fund milik PT AIA Financial dengan return 10,07%.
Head of Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyatakan bahwa prospek kinerja unitlink berbasis saham akan tetap menghadapi tantangan berat ke depannya. Hal ini dipengaruhi oleh pelemahan kinerja pasar modal domestik yang menjadi tolok ukur utama.
Menurut Wawan, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belum menunjukkan pemulihan signifikan membuat produk unitlink saham dengan aset dasar domestik sulit untuk masuk ke zona positif. Sebaliknya, unitlink dengan denominasi dolar AS yang menempatkan investasi di pasar luar negeri cenderung memiliki performa lebih baik dan mampu mencatatkan pertumbuhan positif yang signifikan.
Data Infovesta juga menunjukkan variasi kinerja pada jenis unitlink lainnya selama Mei 2026. Unitlink berbasis campuran tercatat mengalami kontraksi rata-rata sebesar 2,84%. Sementara itu, unitlink pendapatan tetap mampu membukukan kinerja positif tipis sebesar 0,07%. Senada dengan hal tersebut, unitlink berbasis pasar uang juga menunjukkan ketahanan dengan mencatatkan rata-rata return positif sebesar 0,28% pada periode yang sama.

