WASHINGTON – Konflik antara AS-Israel dan Iran yang memanas telah memicu ketidakpastian ekonomi global serta menyebabkan lonjakan biaya hidup bagi masyarakat di berbagai negara. Namun, di balik krisis yang diperparah oleh penutupan Selat Hormuz ini, sejumlah perusahaan raksasa justru mencatatkan rekor pendapatan fantastis hingga triliunan rupiah.
Berikut adalah sektor-sektor yang diuntungkan akibat dinamika geopolitik yang terus berlanjut:
1. Sektor Minyak dan Gas
Gangguan di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital bagi 20% pasokan energi dunia, memicu volatilitas harga minyak. Kondisi ini menjadi ladang keuntungan bagi raksasa energi dunia yang memiliki divisi perdagangan mumpuni.
BP mencatatkan laba dua kali lipat menjadi US$3,2 miliar (Rp55,87 triliun) pada kuartal pertama tahun ini berkat kinerja divisi perdagangan mereka. Shell turut membukukan laba sebesar US$6,92 miliar (Rp120,82 triliun), sementara TotalEnergies mencatat kenaikan laba hampir sepertiga menjadi US$5,4 miliar (Rp94,2 triliun). Meski ExxonMobil dan Chevron sempat terganggu, keduanya tetap melampaui ekspektasi pasar dan memproyeksikan pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
2. Perbankan Investasi
Bank-bank besar di Wall Street menikmati keuntungan besar dari tingginya volume perdagangan selama masa perang. Investor yang panik memilih mengalihkan aset mereka dari saham berisiko tinggi ke aset yang lebih aman, atau justru aktif bertransaksi untuk memanfaatkan fluktuasi pasar.
JP Morgan mencetak rekor pendapatan divisi perdagangan sebesar US$11,6 miliar (Rp202,5 triliun). Secara total, grup bank besar seperti Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo mencatatkan laba gabungan mencapai US$47,7 miliar (Rp832,84 triliun) pada tiga bulan pertama tahun 2026.
3. Industri Pertahanan
Sektor pertahanan menjadi pihak yang paling sigap memanfaatkan momentum konflik. Kebutuhan negara-negara untuk memperkuat pertahanan udara, sistem anti-drone, dan pasokan persenjataan telah memicu lonjakan permintaan di industri ini.
BAE Systems memprediksi pertumbuhan laba yang signifikan tahun ini seiring meningkatnya ancaman keamanan global. Kontraktor militer raksasa lainnya seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman juga melaporkan rekor antrean pesanan pada kuartal pertama 2026. Kendati demikian, harga saham sektor ini mulai terkoreksi karena kekhawatiran pasar terhadap valuasi yang terlalu tinggi.
4. Energi Terbarukan
Perang ini secara tidak langsung mempercepat transisi energi. Ketidakpastian pasokan bahan bakar fosil mendorong negara-negara untuk mendiversifikasi sumber energi mereka demi stabilitas ekonomi nasional.
Minat investor terhadap energi terbarukan melonjak tajam. Perusahaan asal Florida, NextEra Energy, mencatatkan kenaikan saham sebesar 17% tahun ini. Di Denmark, Vestas dan Orsted melaporkan lonjakan laba, sementara di Inggris, Octopus Energy mencatat kenaikan penjualan panel surya hingga 50% sejak akhir Februari. Kenaikan harga bensin juga mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik, memberikan peluang pasar baru bagi produsen otomotif global.

